Jumat, 14 Mei 2010

Aku, bersama sekotak susu dan karcis kereta di pagi hari,,,

Akibat kemalasan di hari libur terjebaklah dalam rutinitas kereta api jakarta yang sangat melelahkan.
05.00 WIB udah harus bangun di hari kejepit nasional ini, beres2 utk mengejar jdwal kereta 05.55 WIB. jadwal ini pun baru aku tau setelah bertanya sana-sini (Makasih buat kak Niken).
Dengan modal nekad juga mengambil jurusan Pondok Ranji-Tanah Abang karena sebelumnya belum pernah, dan parah nya setiap kali naik kereta aku selalu gagal membedakan mana Kereta lokal, KRL, AC dan tiketnya di dapat dimana,,,
kejadian lah pagi ini. Aku antri beli tiket di antrian Kereta Lokal (non-AC) yang harganya hanya Rp.1500,- yang jadi masalah adalah aku harus berada di desakan penumpang yang 'wah'.
mulailah aku menunggu kedatangan kereta dengan sekotak susu "Ultra Milk" rasa coklat di tangan ku. Tadinya aku tidak begitu berniat untuk beli susu ini karena kalo ku minum pagi ini pasti akan mengganggu pencernaanku (alias akan membuat aku sakit perut). Aku beli susu ini dnegan tujuan untuk 'memecah' uang buat beli karcis kereta. Masa menunggu yang sangat kosong. Masih gelap dan orang-orang bertatapan kosong memiliki dunia sendiri dan tanpa peduli siapa yang ada di sebelah kanan maupun kirinya. berdiri kosong dan yang terdengar hanya penawaran koran oleh loper koran yang lalu lalang. pikiran ku mulai melayang "haduhh kenapa harus bermalas ria di hari libur kemaren,,inilah akibatnya..". Sedikit penyesalan di pagi ini. Tapi apa boleh buat mau gak mau harus ngantor di hari kejepit nasional ini,,,
Tibalah yang ditungu-tunggu,,kereta lokal! Tapi astaga,,,betapa penuhnya kereta ini. dan tak ada satu tempat pun untuk ku,,,ku urungkan niat ku naik kereta ini,,,mengorbankan Rp.1500,- untuk dapat kereta AC (sebenarnya ini juga karena ketidakmengertianku tentang antrian karcis kereta). Terpaksa aku harus beli karcis lagi buat kreta AC dgn harga Rp. 4.500,-. hmmm berkorban dikit untuk sebuah kenyamanan,,,
sepanjang menunggu di stasiun Pondok Ranji ini kembali otak ku dipenuhi inspirasi yang ingin ku tuangkan di dalam sebuah tulisan dan sekotak susu di tangan ku masih saja belum menarik perhatian ku,,,karcis kreta lokal yang sedianya ku gunakan,,,akhirnya harus parkir di kantong ku dan tak berniat untuk menjualnya kembali,,,
HARPITNAS yang benar-benar membuat kejepit,,,efek nya aku ngantuk di kantor,,,
:(

Kamis, 13 Mei 2010

One Voice,,

Some kids have and some don't
And some of us are wondering why
Mom won't watch the news at night
There's too much stuff that's making her cry
We need some help
Down here on earth
A thousand prayers, a million words
But one voice was heard

A house, a yard, a neighborhood
Where you can ride your new bike to school
A kind of world where Mom and dad
Still believe in the golden rule
Life's not that simple
Down here on earth
A thousand prayers, a million words
But one voice was heard

One voice, one simple word
Hearts know what to say
One dream can change the world
Keep believing
Till you find a way

Yesterday while walking home
I saw some kid on newberry road
He pulled a pistol from his bag
And tossed it in the river below
Thanks for the help
Down here on earth
A thousand prayers, a million words
But one voice was heard
One voice was heard
One voice was heard

Senin, 10 Mei 2010

Masa Transisi

Memasuki enam bulan pertama menjadi alumni terasa sangat sulit. Pergumulan hidup yang semakin bertubi-tubi kadang-kadang lupa akan visi yang sudah dikomitmenkan semasa kuliah. Mulai dari adaptasi terhadap rutinitas pekerjaan yang setiap hari harus sudah berada di kantor pukul 07.30 pulang tepat pada pukul 17.00 dan beruntung jikalau di kantor diberi tugas/kerjaan oleh senior di kantor tapi terkadang malah tidak diberikan pekerjaan sama sekali. Setiap hari akan selalu berkecimpung dalam rutinitas yang ’itu-itu saja’ akibatnya muncul kejenuhan. Memasuki akhir minggu seringnya meluangkan waktu untuk istirahat dengan alasan seminggu ini melelahkan sekali sehingga sulit rasanya untuk meluangkan waktu untuk mengikuti persekutuan atau kegiatan pelayanan di gereja.

Pergumulan lain datang dari dalam diri sendiri dimana sebagai alumni baru sering sekali muncul berbagai cita-cita, barangkali untuk memiliki beberapa property ter-update, kuliah sesegera mungkin, memikirkan berbagai cara untuk investasi, memiliki karir yang melejit cepat, atau sangat serius memikirkan pasangan hidup [seolah-olah usia panic dan yang mungkin juga karena desakan berbagai pertanyaan sesame alumni]. Semua hal ini tentunya tidak pernah disalahkan dalam perspektif iman kristiani seperti apa yang telah dipelajari dan sangat meneguhkan saat menjalani perkuliahan. Tetapi yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah ”apakah yang menjadi cita-cita ini telah sesuai dengan visi yang dikomitmenkan semasa kuliah dulu.??”

Bagi sebagian alumni [yang belum penempatan definitive] muncul pergumulan lain yang tidak kalah menguras pikiran karena sangat mempengaruhi semua planning ke depan. Tidak lain tidak bukan adalah penempatan definitive. Pertanyaan-pertanyaan ”di daerah mana Tuhan akan menempatkanku?”, ”di bagian/seksi mana saya akan dipercayakan?”, ”tugas yang seperti apa yang menjadi tanggungjawab saya?”, ”apa persiapan yang harus saya lakukan untuk semua itu?” menjadi muncul ketika penempatan definitive masih menjadi sesuatu yang ditunggu. Ketidak jelasan seperti ini juga membuat alumni baru menjadi kehilangan visi semasa kuliah.

Secara pribadi, ini juga yang menjadi pergumulanku saat ini. Aku menulis ini karena aku sangat ditegur dan merasa tertampar saat membaca ”Menjadi Murid Yesus di dalam Kehidupan Nyata” karya Richard Lamb. Aku baru membaca 2 bab awal tapi aku merasa sangat ditegur. Firman Allah yang dikutip adalah Markus 13 ; 31 ”Langit dan bumi akan berlalu namun perkataanku tidak akan berlalu.” Perubahan drastis dari masa kuliah yang menyenangkan ke dalam masa alumni yang dikenal terasa membosankan harus ku akui mengubah beberapa kebiasaan baik yang dibangun semasa perkuliahan. Saat Teduh yang seringkali menjadi rutinitas dan tidak menikmati, jam doa pribadi yang kosong dan bahkan terlewatkan, PA pribadi yang seolah-olah sudah menjadi sejarah, kelompok kecil yang tidak diperjuangkan. Bahkan lebih parah dari itu, kadang-kadang kehilangan visi yang dikomitmenkan semasa kuliah [visi Allah] atau kasih mula-mula yang sudah mulai redup. Bagian firman Allah ini menegurku, masa boleh berubah dari masa kuliah ke masa alumni, tapi sesungguhnya Firman Allah tak pernah berubah [kekal]. Richard Lamb menggunakan istilah yang menarik di salah satu judul subbab di bab 2 nya yaitu,
”Konteks berubah, keyakinan tetap sama” dan memberikan teladan orang yang berhasil beradaptasi di masa transisi ini.

Rutinitas boleh berubah, cita-cita dan impian boleh berubah dan semakin berkembang, namun Firman Allah kekal dan tidak pernah berubah selama-lamanya.
Visi Allah bersifat kekal maka teruslah bertanya kepada Allah apa yang akan ku kerjakan untuk mewujudkan visi Allah di tengah dunia.

Semangat!!